my pets

my pets
ngaco abis ini mah bukan pet, but dari game kok

Saturday, September 20, 2008

cerita menarik dari ragfill

ini wa ambil dari kisah2 yang paling meanrik yang menjadi inspirasi , klo menurutku sih yah...ini sebenarnya ada di blog friendsterku btw mungkin lebih baik wa post disini dulu deh:

IMPIAN SEORANG MAHASISWI
Submitted by Astuti Bisowarni (@britishcouncil.or.id)



Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami
untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan
melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya
menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang
dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah.

Ia menyapa, "Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh
tujuh. Maukah kamu memelukku?"

Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, "Tentu saja boleh!".
Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat. "Mengapa kamu ada di kampus
pada usia yang masih muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya
berolok-olok.

Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang
kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."
"Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah
memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.

"Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya
sedang mengambilnya!" katanya.

Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan
berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. Dalam tiga bulan
kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti.
Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya.
Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia
berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian
dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam
klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada
kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan
pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari

lima

kartu pidatonya terjatuh ke lantai.
Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan
berkata, "Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi
wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka
ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

Saat kami tertawa dia membersihkan kerongkongannya dan mulai, "Kita tidak
pernah berhenti bermain karena kita tua; kita menjadi tua karena kita berhenti
bermain. Hanya ada empat rahasia untuk tetap awet muda, tetap bahagia, dan
meraih sukses. Kamu harus tertawa dan menemukan humor setiap hari. Kamu harus
mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati.

Ada

banyak sekali orang
yang berjalan di sekitar kita yang mati namun tidak mengetahuinya!"

"Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur
sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh,
tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila
saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu
tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan.
Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau
bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan.

"Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak
menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak
kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan
penyesalan." Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose".
Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam
kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa
tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih
dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan
pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa
tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan.

Ingatlah, menjadi tua adalah keharusan, menjadi dewasa adalah pilihan